Jumat, 24 April 2015

6 KEISTIMEWAAN AL-QURAN



Dengan menyebut nama Alloh yang telah menganugerahi saya  nikmat iman, sehat serta akal pikiran sehingga membuat ide saya mewujud dalam tulisan yang karena keterbatasan saya masih jauh dari sempurna.
Segala puji syukur bagi Alloh karena saat tulisan ini dibuat, akhirnya saya selesai juga menyetor hafalan juz 30 ditambah Al-Waqi’ah. Hehe.. Kalau temen-temen yang lain sudah mulai merapal Al-Qolam, Al-Haqqoh dan bahkan ada yang hampir selesai dengan juz 29 nya, saya baru mulai dengan Al-Mulk..*shy*
Tapi tak apa, selama Alloh masih beri semangat menggebu, saya tak akan habis asa. Jadi tulisan inipun saya tulis sebagai wujud syukur karena Alloh tumbuhkan rasa cinta pada Al-Qur’an.
Bersumber dari beberapa kajian ilmu, maupun literatur yang pernah saya baca, setidaknya ada ENAM KEISTIMEWAAN Al-QUR’AN yang berhasil saya gali.
1. AL-QUR’AN DITURUNKAN OLEH ALLOH DAN LANGSUNG DIPELIHARA OLEH-NYA.
Tidak ada keraguan dari pada Al-Qur’an (Al-Baqarah :2) karena Alloh sendiri yang memeliharanya. Hal ini difirmankan Alloh dalam Surah Al-Hijr ayat 9, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.
Salah satu cara Alloh menjaga Al-Qur’an adalah menjadikannya mudah dihafal sehingga saat ini ada ribuan Muslim di berbagai belahan dunia yang menjadi penghafal Al-Qur’an dan Hafidzul Qur’an.
Hafidzul Qur’an berarti penjaga Al-Qur’an. Mereka tak sekedar menjadi penghafal setiap lafadz Al-Qur’an, tetapi penjaga agar terhindar dari pemalsuan, penambahan, pengurangan ayat-ayatnya. Sebuah amanah dan prestasi besar tentunya. Merekalah tali-tali Alloh, karena melalui mereka, Alloh menjaga keaslian Al-Qur’an tetap terjaga. Jika ada satu ayat saja yang diubah, bisa dibayangkan para Hafidzul Qur’an ini tentu akan berontak.
2. KALAM AL-QUR’AN BEBAS DARI CAMPUR TANGAN MANUSIA, APALAGI SYETAN.
Untuk membuktikan keaslian Al-Qur’an, selain Alloh menjanjikan penjagaan atas Al-Qur’an adalah bahwa Al-Qur’an terjaga dari campur tangan manusia, apalagi syetan.
Dalam Al-Haqqoh ayat 41, “Dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair.” Sedangkan dalam ayat 44 “Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami”.
Jika Muhammad sebagai Rosulullah saja dinyatakan Alloh tidak memiliki campur tangan atas Kalam Ilah ini, apalagi kita manusia biasa?
Bahkan Alloh memberi tantangan bagi siapa saja yang bisa membuat tandingan Al-Qur’an sebagaimana yang terfirman dalam Surat Al-Hijr ayat 9 “… Katakanlah (Muhammad): “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.”
Begitu juga dalam Surat Yunus ayat 37-38“Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah… Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
Jelas bukan? Tak akan ada seorangpun termasuk Musailamah Al Kadzab yang mampu membuat tandingan Alqur’an, walaupun surat pendek seperti Al-Fiil yang coba dipalsu olehnya.
Selain itu, campur tangan syetan pun tak ada. Sebagaimana termaktub dalam At-Takwir ayat 25 “Dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk”.
3. BERSIFAT PEMBENAR DARI KITAB-KITAB SEBELUMNYA
Hal ini dijabarkan Alloh dalam Surat Al-Maidah ayat 48 Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu”.
Dalam Surat Yunus ayat 37 juga dijabarkan, “Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.” *Ya Alloh saya merinding*
dan juga ada dalam Surat Yusuf ayat 111 “Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”
Ada juga dalam Surat Al-Ahqof ayat 12 “Dan sebelum Al Qur’an itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al Qur’an) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang dzalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
Artinya apa? Sudah  diketahui bersama bukan bahwa kitab sebelum Al-Qur’an adalah Zabur, Taurat dan juga Injil. Dan dari kesemua isi dalam kitab-kitab terdahulu tersebut, hal-hal yang dibenarkan oleh Alloh (baik aqidah, muamalah, tauhid) akan dituangkan lagi dalam Al-Qur’an untuk menjadi peringatan dan petunjuk manusia.
4. BERSIFAT NASAKH ATAU PENGHAPUS KETENTUAN DARI KITAB-KITAB SEBELUMNYA
Hal ini difirmankan Alloh dalam Surat Ar-Ra’du ayat 38- 39” … Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu). Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki). Dalam Surat Al-Maidah ayat 48 juga disebutkan“…batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.”
Dengan kata lain, Alloh menghapuskan ketentuan yang dikehendaki dalam kitab sebelum Al-Qur’an di dalam Al-Qur’an.
5. DITURUNKAN DALAM BAHASA ARAB DAN BERULANG-ULANG
Al-Qur’an dituliskan dalam Bahasa Arab dijelaskan dalam Al-Qur’an dalam beberapa ayat secara berulang-ulang, di antaranya QS 12:2, 13:37, 16:103, 20:113, 26:195, 39:28, 41:3, 43:3, 44:58 dan 17:89.
Dalam QS Taha (20:113) juga difirmankan Alloh,” Dan demikianlah Kami menurunkan Al Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.”
Sedangkan alasan Alloh mengulang beberapa ketentuan, perintah maupun larangan untuk menjadi penegasan dan menjadikan manusia berpikir atas peringatan tersebut.
Bahasa Arab dipilih oleh Allah karena merupakan bahasa manusia, dan karena Rosul adalah seorang Arab.
Dalam Surat Fushilat ayat 44 difirmankan Alloh “Apakah (patut Al Qur’an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab?” Mengenai hal inipun, salah seorang guru saya pernah berpendapat bahwa Bahasa Arab adalah bahasa yang istimewa dimana satu kata, dengan jumlah orang yang melakukan, dan juga waktu kejadian berbeda memiliki kosa kata bahasa Arab yang berbeda juga. Selain itu, Beliau juga berpendapat bahwa kaum Arab cukup bagus dalam menghafal, maka bisa jadi itu menjadi salah satu alasan. Wallahu a’lam.
Mengenai bahasa Al-Qur’an, tidak hanya bahasa Arab biasa atau bahkan bahasa ‘ajam (Bahasa kasar yang digunakan Arab Badui) yang digunakan. Bahasanya istimewa. Maka dari itu, ada ilmu Nahwu dan Sharaf yang digunakan untuk mempelajari bahasa Al-Qur’an. Bahkan, perbedaan tanda baca setiap kata (fathah, kasroh, dhlommah, tanwin) bisa jadi memiliki arti kata yang berbeda.
Contoh istimewanya bahasa Al-Qur’an ini ada dalam ayat yang juga diulang-ulang dalam Al-Baqoroh: 34, Al-A’raf: 11, Al-Isra’: 61, Al-Kahf: 50, Taha: 116.
Coba deh, buka salah satu, misal Al-Baqoroh ayat 34. Termaktub “Waidzqulnaa lilmalaaikati sjuduu Liaadama fasajaduu illaa iblisa” yang artinya “Dan ingatlah ketika kami berfirman kepada para malaikat, ”Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis.” Di akhir kata “Iblis”, tanda baca (I’rab) nya adalah Manshub untuk Mufrad (Tunggal), yaitu fathah (a), padahal jika ia berdiri sendiri (tidak dalam kalimat), tanda baca mufrad adalah dlommah(u). Mengapa demikian?
Dalam ilmu nahwu, ketentuan ini disebut Mustatsna jenisnya Taam Manfiiy (ada 3 jenis Mustatsna). Al-Mutstasna adalah Ism Manshub yang berada setelah kata Illaa (Kecuali). Ism Mansubh tersebut adalah obyek pengecualian. Oiya ism artinya adalah kata benda. Sedangkan jenis Taam Manfiy digunakan untuk kalimat sempurna dan negatif. Hukum I’rob nya boleh memilih salah satu di antara dua:
a. Sesuai hukum asli Mustatsna. Dalam hal ini untuk Mufrad (Tunggal), yaitu fathah (a) atau;
b.Ikut Ism Minhu nya. Dalam hal ini adalah malaaikati yang punya I’rob Majrur untuk Mufrod, yaitu kasroh (i).
Akan tetapi yag dipilih adalah hukum ASLI mustatsna yaitu manshub, tidak mengikuti ism minhu-nya. Sehingga di ayat tersebut ditulis Iblisa, BUKAN Iblisi.
Dosen Nahwu di kelas saat itu, berpendapat, bahwa iblis dihukumi hukum asli mustatsna (manshub), dan tidak ikut ism minhu nya karena Iblis tidak dianggap satu golongan dengan malaikat. Iblis dianggap berbeda karena Iblis inkar, sedangkan malaikat taat kepada Alloh.
Subhanalloh.. perbedaan tanda baca ternyata mempunyai makna mendalam. Ini baru satu contoh. Tentunya masih banyaaaak lagi yang saya pun masih harus banyaaak belajar.
6. BERLAKU UNTUK SELURUH UMAT MANUSIA
Berbeda dengan Taurat yang berlaku untuk umat nabi Musa dan Harun saja, Kitab Zabur untuk kaum Nabi Daud, Al-Qur’an merupakan kitab yang berlaku untuk seluruh umat manusia. Sepanjang masa dan di belahan bumi manapun.
Hal ini dibuktikan dalam kalam Ilahi pada  Surat Al-Furqon ayat 1“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”.
Kira-kira itulah enam keistimewaan Al-Qur’an menurut pemikiran saya. Dan tentunya masih banyak lagi jika dikaji dan digali lebih dalam.
Yang jelas, Al-Qur’an adalah best book ever, yang ketika membacanya bisa menciptakan lompatan-lompatan dalam hati atau bahkan menangis haru. Maklum, penulis, editor nya adalah Alloh sendiri.
Wallahu a’lam bisshowab.
Kesempurnaan hanya milik Alloh. Kekurangan, keterbatasan adalah milik saya.
 *Tulisan ini saya persembahkan untuk sahabat terbaik yang selalu menginspirasi: Anis, Oryza, Bela, Reza, Asri, Rois, teman-teman Al-Manar serta banyak orang hebat di sekitar saya. Semoga Alloh selalu membersamai kalian dalam cinta-Nya. :* :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar